Waralaba/Franchising

Posted: 08/10/2011 in bahan kuliah
Tag:

Waralaba atau Franchising

 

Waralaba atau Franchising (dari bahasa Prancis untuk kejujuran atau kebebasan) adalah hak-hak untuk menjual suatu produk atau jasa maupun layanan. Sedangkan menurut versi pemerintah Indonesia, yang dimaksud dengan waralaba adalah perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak memanfaatkan dan atau menggunakan hak dari kekayaan intelektual (HAKI) atau pertemuan dari ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan oleh pihak lain tersebut dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan jasa.

Sedangkan menurut Asosiasi Franchise Indonesia, yang dimaksud dengan Waralaba ialah:

Suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir, dimana pemilik merek (franchisor) memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu meliputi area tertentu.

 

Franchisor dan franchisee

Selain pengertian waralaba, perlu dijelaskan pula apa yang dimaksud dengan franchisor dan franchisee.

  1. Franchisor atau pemberi waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang memberikan hak kepada pihak lain untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimilikinya.
  2. Franchisee atau penerima waralaba, adalah badan usaha atau perorangan yang diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas yang dimiliki pemberi waralaba.

 

 

 

 

Sejarah Waralaba

Waralaba diperkenalkan pertama kali pada tahun 1850-an oleh Isaac Singer, pembuat mesin jahit Singer, ketika ingin meningkatkan distribusi penjualan mesin jahitnya. Walaupun usahanya tersebut gagal, namun dialah yang pertama kali memperkenalkan format bisnis waralaba ini di AS. Kemudian, caranya ini diikuti oleh pewaralaba lain yang lebih sukses, John S Pemberton, pendiri Coca Cola Namun, menurut sumber lain, yang mengikuti Singer kemudian bukanlah Coca Cola, melainkan sebuah industri otomotif AS, General Motors Industry ditahun 1898. Contoh lain di AS ialah sebuah sistem telegraf, yang telah dioperasikan oleh berbagai perusahaan jalan kereta api, tetapi dikendalikan oleh Western Union serta persetujuan eksklusif antar pabrikan mobil dengan dealer..Mc Donalds, salah satu pewaralaba rumah makan siap saji terbesar di dunia

Waralaba saat ini lebih didominasi oleh waralaba rumah makan siap saji. Kecenderungan ini dimulai pada tahun 1919 ketika A&W Root Beer membuka restauran cepat sajinya. Pada tahun 1935, Howard Deering Johnson bekerjasama dengan Reginald Sprague untuk memonopoli usaha restauran modern. Gagasan mereka adalah membiarkan rekanan mereka untuk mandiri menggunakan nama yang sama, makanan, persediaan, logo dan bahkan membangun desain sebagai pertukaran dengan suatu pembayaran. Dalam perkembangannya, sistem bisnis ini mengalami berbagai penyempurnaan terutama di tahun l950-an yang kemudian dikenal menjadi waralaba sebagai format bisnis (business format) atau sering pula disebut sebagai waralaba generasi kedua. Perkembangan sistem waralaba yang demikian pesat terutama di negara asalnya, AS, menyebabkan waralaba digemari sebagai suatu sistem bisnis diberbagai bidang usaha, mencapai 35 persen dari keseluruhan usaha ritel yang ada di AS. Sedangkan di Inggris, berkembangnya waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg, pada tahun 60-an. Bisnis waralaba tidak mengenal diskriminasi. Pemilik waralaba (franchisor) dalam menyeleksi calon mitra usahanya berpedoman pada keuntungan bersama, tidak berdasarkan SARA.

 

 

 

Jenis waralaba

Waralaba dapat dibagi menjadi dua:

  1. Waralaba luar negeri, cenderung lebih disukai karena sistemnya lebih jelas, merek sudah diterima diberbagai dunia, dan dirasakan lebih bergengsi.
  2. Waralaba dalam negeri, juga menjadi salah satu pilihan investasi untuk orang-orang yang ingin cepat menjadi pengusaha tetapi tidak memiliki pengetahuan cukup piranti awal dan kelanjutan usaha ini yang disediakan oleh pemilik waralaba.

 

Biaya waralaba

Biaya waralaba meliputi:

  1. Ongkos awal, dimulai dari Rp. 10 juta hingga Rp. 1 miliar. Biaya ini meliputi pengeluaran yang dikeluarkan oleh pemilik waralaba untuk membuat tempat usaha sesuai dengan spesifikasi franchisor dan ongkos penggunaan HAKI.
  2. Ongkos royalti, dibayarkan pemegang waralaba setiap bulan dari laba operasional. Besarnya ongkos royalti berkisar dari 5-15 persen dari penghasilan kotor. Ongkos royalti yang layak adalah 10 persen. Lebih dari 10 persen biasanya adalah biaya yang dikeluarkan untuk pemasaran yang perlu dipertanggungjawabkan.

 

Waralaba di Indonesia

Di Indonesia, sistem waralaba mulai dikenal pada tahun 1950-an, yaitu dengan munculnya dealer kendaraan bermotor melalui pembelian lisensi. Perkembangan kedua dimulai pada tahun 1970-an, yaitu dengan dimulainya sistem pembelian lisensi plus, yaitu franchisee tidak sekedar menjadi penyalur, namun juga memiliki hak untuk memproduksi produknya. Agar waralaba dapat berkembang dengan pesat, maka persyaratan utama yang harus dimiliki satu teritori adalah kepastian hukum yang mengikat baik bagi franchisor maupun franchisee. Karenanya, kita dapat melihat bahwa di negara yang memiliki kepastian hukum yang jelas, waralaba berkembang pesat, misalnya di AS dan Jepang. Tonggak kepastian hukum akan format waralaba di Indonesia dimulai pada tanggal 18 Juni 1997, yaitu dengan dikeluarkannya Peraturan Pemerintah (PP) RI No. 16 Tahun 1997 tentang Waralaba. PP No. 16 tahun 1997 tentang waralaba ini telah dicabut dan diganti dengan PP no 42 tahun 2007 tentang Waralaba. Selanjutnya ketentuan-ketentuan lain yang mendukung kepastian hukum dalam format bisnis waralaba adalah sebagai berikut:

  1. Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan RI No. 259/MPP/KEP/7/1997 Tanggal 30 Juli 1997 tentang Ketentuan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba.
  2. Undang-undang No. 14 Tahun 2001 tentang Paten.
  3. Undang-undang No. 15 Tahun 2001 tentang Merek.
  4. Undang-undang No. 30 Tahun 2000 tentang Rahasia Dagang.

Banyak orang masih skeptis dengan kepastian hukum terutama dalam bidang waralaba di Indonesia. Namun saat ini kepastian hukum untuk berusaha dengan format bisnis waralaba jauh lebih baik dari sebelum tahun 1997. Hal ini terlihat dari semakin banyaknya payung hukum yang dapat melindungi bisnis waralaba tersebut. Perkembangan waralaba di Indonesia, khususnya di bidang rumah makan siap saji sangat pesat. Hal ini ini dimungkinkan karena para pengusaha kita yang berkedudukan sebagai penerima waralaba (franchisee) diwajibkan mengembangkan bisnisnya melalui master franchise yang diterimanya dengan cara mencari atau menunjuk penerima waralaba lanjutan. Dengan mempergunakan sistem piramida atau sistem sel, suatu jaringan format bisnis waralaba akan terus berekspansi.

Ada beberapa asosiasi waralaba di Indonesia antara lain APWINDO (Asosiasi Pengusaha Waralaba Indonesia), WALI (Waralaba & License Indonesia), AFI (Asosiasi Franchise Indonesia). Ada beberapa konsultan waralaba di Indonesia antara lain IFBM, The Bridge, Hans Consulting, FT Consulting, JSI dan lain-lain. Ada beberapa pameran Waralaba di Indonesia yang secara berkala mengadakan roadshow diberbagai daerah dan jangkauannya nasional antara lain International Franchise and Business Concept Expo (Dyandra),Franchise License Expo Indonesia ( Panorama convex), Info Franchise Expo ( Neo dan Majalah Franchise Indonesia).

 

 

 

Tingkat pengembalian

Tingkat pengembalian yang layak dari sebuah waralaba adalah minimum 15 persen dari nilai.

Di Indonesia waralaba yang berkembang pesat dan masih sangat menguntungkan adalah waralaba di bidang makanan(Wong Solo, Sapo oriental, CFC, Hop Hop, Red Crispy, Papa Ron dan masih banyak merek lainnya ).

Waralaba berbentuk retail mini outlet (IndoMaret, Yomart, AlfaMart ) banyak menyebar ke pelosok kampung dan pemukiman padat penduduk.

Dibidang Telematika atau Information & Communication Technology , juga mulai diminati pada 3 tahun terakhir ini berkembang beberapa bidang waralaba seperti distribusi tinta printer refill/cartridge (Inke, X4Print, Veneta dll ) , pendidikan komputer (Widyaloka, Binus ) , distribusi peralatan komputer ( Micronics Distribution ) , Warnet / NetCafe (Multiplus, Java NetCafe, Net Ezy) , Kantor Konsultan Solusi JSI , dll.

Yang juga menguntungkan adalah waralaba di bidang pendidikan (Science Buddies, ITutorNet, Primagama ) , terutama taman bermain (SuperKids) dan taman kanak-kanak(FastractKids, Kids2success , Townfor Kids) , Pendidikan Bahasa Ingris ( EF/English First, ILP, Direct English ) , dll

Perkembangan merek dan waralaba dalam negeri cukup pesat dan pada pameran pameran franchise ditanah air terlihat banyak merek merek nasionalIndonesiabersaing dengan merek global dan regional.

 

Keuntungan bagi pemberi waralaba

Keuntungan bagi pemberi waralaba untuk mewaralabakan bisnisnya antara lain:

  1. Modal sepenuhnya berasal dari penerima waralaba, yang dipakai juga
    buat menjalankan usaha tersebut.
  2. Pemberi waralaba menerima persentase dari penghasilan kotor, dan
    tidak memiliki kaitan dengan keuntungan (profit) maupun kerugian       (loss) si penerima waralaba.
  3. Penerima waralaba atau orang yang ditunjuk penerima waralaba
    terjun sendiri menangani operasional usahanya.
  4. Penerima waralaba membayar biaya pelatihan. Bagi pemberi
    waralaba, kegiatan pelatihan ini biasanya menjadi salah satu profit center mereka juga.
  5. Bagi pemberi waralaba, debt to equity ratio mereka menjadi posotif,
    karena tidak perlu mencari sumber pendanaan lagi (hutang)

 

Keuntungan bagi calon pemberi waralaba memakai konsep bisnis ini
adalah karena waralaba dapat mengurangi:

  1. Biaya tinggi untuk memulai usaha.
  2. Melakukan penetrasi pasar secara cepat dan murah
  3. Melakukan penguncian pasar, agar susah dimasuki oleh pemain
    lain.
  4. Mengurangi biaya untuk mengelola merek, karena merek adalah
    time consume to develop.
  5. Mengurangi resiko kegagalan.

Di sisi lain, waralaba dapat memberikan manfaat kepada penerima
waralaba berupa:

  1. Produk atau jasa yang sudah terkenal
  2. Merek dagang yang sudah besar.
  3. Adanya bantuan pemasaran dan iklan
  4. Adanya pelatihan yang jelas
  5. Adanya bantuan teknis dari pemberi waralaba
  6. Adanya kemudahan melakukan pinjaman kepada pihak ketiga, bila
    waralabanya sudah teruji di pasar.

 

Tahap Franchisibility

Secara garis besar ada tahap-tahap yang harus dilalui untuk menjadi
pemberi waralaba, sebagai berikut:

  1. Tahap audit internal. Disini diperlukan auditor independen untuk mengaudit semua laporan keuangan, khususnya dua tahun terakhir, agar hasilnya terjaga dan tidak terjadi bias.

Menganalisa profitabilitas, likuiditas, dan solvabilitas keuangan perusahaan. Memprediksi permintaan pasar. Melakukan marketing intelligence, menganalisa kekuatan dan kelemahan pesaing di mata pasar/konsumen. Melakukan analisa untuk mengetahui apakah konsep bisnis klien dapat diterapkan di dalam situasi pasar yang berbeda-beda.

2. Tahap menyusun dan mengembangkan sistem yang standar dan dapat diimplementasikan di setiap penerima waralaba. Tahap ini sering disebut tahap system adjustment dan up grading.

3. Tahap franchise development. Dilakukan simulasi perhitungan perkiraan pembiayaan dan pendapatan (fees & royalties), penyusunan konsep-konsep teori, serta wilayah pemasaran. Selain itu juga dilakukan: penyusunan manual sistem teknologi informasi yang digunakan

manual pembukuan/laporan

manual quality control

manual pemasaran/periklanan

manual latihan/training

manual bantuan lapangan (field support)

rancangan organisasi

perencanaan strategis

brosur untuk public offering

dan persiapan dokumen hukum

4. Tahap terakhir adalah  franchise implementation. Pada tahap ini, dipersiapkan kriteria seleksi terwaralaba (termasuk seleksi site), prosedur pembukaan operasi usaha, serta pengembangan profil  waralaba dan strategi pemasaran.

Prosedur legalitas (MOU, Perjanjian Kerja Sama) Mendaftarkan   penerima waralaba ke Depperindag Training Monitoring dan Evaluasi.

 

Keuntungan bagi penerima waralaba

Keuntungan yang diperoleh dari penerima waralaba

Waralaba Metrodata Sales and Service didasarkan pada prinsip saling menguntungkan (win-win). Kerja sama bisnis ini haruslah membawa keuntungan secara finansial baik bagi penerima waralaba (franchisee) maupun pemberi waralaba (franchisor), serta memberikan nilai bagi para pelanggan. Para wirausahawan yang sudah memenuhi syarat dalam hal permodalan dapat dengan cepat memulai bisnis ini, menggunakan nama METRODATA tanpa harus melewati masa percobaan untuk perusahaannya (trial and error). Keuntungan yang dapat diperoleh dari penerima waralaba adalah:

1. Penerima waralaba dapat menggunakan merek METRODATA.

2. METRODATA akan melengkapi para penerima waralaba dengan buku    pedoman sistem dan prosedur yang telah diadopsi dari pengalaman perusahaan ini dalam melakukan bisnis.

3. Penerima waralaba akan mendapatkan akses secara penuh terhadap sumber-sumber yang telah dimiliki METRODATA, sehingga mereka dapat segera memulai kegiatan bisnis di perusahaannya.

4. METRODATA akan membimbing para penerima waralaba dalam beberapa fase untuk menyiapkan proses bisnisnya, mulai dari pemilihan lokasi, disain interior ruangan, perekrutan dan pelatihan karyawan serta membantu mempersiapkan sistem dan prosedur.

5. Parapenerima waralaba akan langsung menjadi penyedia jasa yang ditunjuk secara resmi oleh para principal yang sudah di ageni oleh METRODATA antara lain Acer, Epson, Hewlett-Packard, IBM.

6. Penerima waralaba ini akan selalu mendapatkan dukungan secara teknis dalam menyediakan jasa-jasa reparasi, yang bisa menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan sebuah bisnis jasa dan perawatan produk.

Komentar
  1. melita astrilia mengatakan:

    prosedure nya apa aja?

  2. Arief Kren Coy mengatakan:

    setiap waralaba mempunyai prosedur masing2 N syarat2 biasanya juga ditentukan oleh pihak yang mempunyai waralaba itu sendiri….

  3. dyah setyowati mengatakan:

    Mohon bisa dikasih contoh akta Notarisnya Pak… terima kasih…

    • Arief Kren Coy mengatakan:

      mohon maaf untuk itu tidak bisa dikasihkan contoh aktanya…..
      tp biasanya dr pihak waralaba sendiri sudah menyiapkan akta bakunya dan notaris hanya sekedar melengkapinya saja….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s